Kategori
KESEHATAN WAWASAN

Suplemen Hati

Dua hari terakhir lagi butuh banget suplemen hati, Alhamdulillah ‘nemu rekaman ceramah Ustadz Oemar Mita Lc, ngaji kitab Tadzkiatun Nafs Bab Niat.

Beberapa linknya :

Simpulan untuk diri saya :

“Sakit, sehat, sedih, senang, semuanya adalah hak ALLaah” – ini mindsetnya orang beriman. Kita pernah mendengar cerita, ada orang yang komitmen disiplin menjalani gaya hidup sehat dan manajemen stress, tapi QadaruLLaah jatuh sakit juga. Sebaliknya, ada orang yang makan sembarangan, perokok berat, sampai usia 80 tahun baik-baik saja. Demikian juga dalam hal ketaatan, ada orang yang taat tetap diuji sakit, sedangkan para koruptor, para dukun, hidupnya sehat banget dan bahagia (kelihatannya) ๐Ÿ˜€

Baik sakit atau sehat, miskin atau kaya, sedih atau senang, jomblo atau berpasangan, punya keturunan atau enggak. Bagi orang beriman, ini semua adalah ujian tauhid. Ketika dikasih nikmat, dia bersyukur nggak. Ketika dikasih masalah, dia bersabar nggak. Jadi kufur atau makin taat.

Dia Yang menciptakan, pastinya hanya Dia Yang Maha Tahu kapasitas kemampuan dan kebutuhan makhluk ciptaan-Nya.
Sebagai orang beriman, kita tetap wajib beriktiar, wajib tahu ilmunya, dan ‘ngamalin semampunya. Gimana jalannya untuk punya pasangan yang diridhoi Allah, gimana caranya hidup tetap sehat, gimana caranya lebih sukses, lebih pintar, lebih kaya untuk bekal akherat. Enggak cukup hanya berdoa dan pasrah diam saja. Harus ada perjuangan dan pengorbanan.
Hasil akhirnya dikembalikan lagi kepada Yang Maha Kuasa, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Adil, Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Makan, olahraga, perawatan, niatnya cuma untuk sehat doang, atau agar keliatan in-shape, atau supaya pasangan makin cinta, atau senang dipuji orang, “Wow, masih cantik aja, masih ganteng aja, awet muda yaa, kayak anak kuliahan yaa.” dan sebagainya, maka ketika jatuh sakit, berubah jadi kurang cantik, kurang ganteng, ceking kerempeng atau menggendats, pasangan cuek egepe, ujung-ujungnya bapeerrr.

Ketika sholat tahajud, dhuha, baca Quran, bersedekah, ngumpulin anak yatim, niatnya hanya untuk kelancaran bisnis, demi omset semata, atau latah pengen kaya, atau demi gebetan, maka ketika bisnisnya bangkrut, atau jodohnya belum juga datang, pasti jadinya kecewa, marah, bingung dan sedih.

Ketika sakit, kalo berobat niatnya hanya untuk mendapatkan kesembuhan, maka ketika hasilnya tidak kunjung sembuh, atau penyakitnya malah makin parah, pasti jadinya kecewa, marah, sedih, lelah, putus asa. Na’udzubiLLaahi min dzalik.

Ketika belajar hanya untuk jadi juara, atau demi masuk PTN favorit, maka ketika gagal, pasti jadi merasa kecewa, kesal, ngedumel, atau menyalahkan keadaan. Demikian juga ketika bekerja keras niat hanya untuk cari uang, sesuap nasi, segenggam berlian. Kalau pun Allah berkenan “ngasih” apa yang diniatkan, ya udah sebatas itu aja yang didapat. Terus nanti di akhirat kita dapet apa dong?

Idealnya, niat nomer satu itu untuk Allah, agar mendapat ampunan-Nya, ridho-Nya, kasih sayang-Nya, rahmat-Nya, dan berharap masuk surga. Lapisan kedua dalam rangka mensyukuri nikmatnya. Lapisan ketiga untuk melakukan semakin banyak kebaikan, berbagi manfaat seluas-luasnya. Lapisan keempat dan seterusnya, barulah berdoa meminta rezeki yang berkah, panjang umur dalam sehat dan taqwa, keturunan shalih, hingga minta sendal baru atau mobil baru.

Jangan menipu Allah, karena Dia Maha Tahu hal yang ghaib, sekecil sehalus apapun isi hati kita. Niat itu amalan hati. Menjaga kebersihan niat itu dari awal, pertengahan, sampai akhir hayat. Tidak mudah. Butuh banyak istighfar dan taubat. Bahkan mengistighfarkan istighfar itu sendiri.

Semoga kita termasuk golongan orang yang diberi taufiq dan hidayah, dimampukan, untuk selalu berusaha membersihkan niat dalam setiap keadaan.

===

Menulis, mengikat ilmu.

Kategori
ASAKU KESEHATAN RETJEHAN WAWASAN

Kacamata Kuda

Di kelurahan mana pun kita tinggal, di komunitas mana pun kita gabung, di platform medsos mana pun, akan selalu ada orang-orang yang mispersepsi dengan pekerjaan kita. Ciri-cirinya, mulai dari gaya berkomentar, “Ah ngapain sih, buat apa ngelakuin itu, ga usah neko-neko lah.” Sampai kenyinyiran, “Jelek amat, gak pantes,” Tapi nggak ngasih solusinya.

Copas prinsip beberapa temanku ya. “Tidak semua hal wajib dijelaskan. Orang yang mencintaimu tak butuh itu. Orang yang hasad padamu tidak akan mampu memahami apalagi percaya.”

Terus gimana dong menyikapi makhluk-makhluk julit ini? Contoh aja Gubernur Endonesah. Bang Anies Baswedan dibully berudu sejak hari pertama jadi Gubernur sampai detik ini, lempeng bae. Ngga pake baper, nggak ada cerita njeblosin anak berudu masuk bui. Tapi kita semua bisa lihat hasil kerjanya. Danau Sunter keren banget, bersih, cantik. Enggak bau lagi dong. Genangan air efek curah hujan, cuma hitungan jam surut. Fasilitas pejalan kaki dan pesepeda dibikin nyaman. Jakarta udeh kayak Singapore. – ini baru sedikit yang saya lihat dan saya nikmati ya.

Intinya. Selama sesuatu yang kita lakukan itu, bukan hal yang bikin Allah tidak ridho, apapun nyinyiran orang, fokus aja kerjakan sebaik-baiknya. Memang tidak mudah ya. Kadang kepancing emosi juga, “Lu kalo gak bisa support, jangan bikin down semangat orang dong! Ngasih makan enggak, ngasih solusi enggak, nyonyor aje bisanya.” ๐Ÿ˜€ Jangan ditiru ya Gais. ๐Ÿ˜€๐Ÿ™

Menulis ini sambil ngebayangin masa muda penuh impian, cita-cita, ketemu orang-orang yang mispersepsi dan kata-katanya lebih tajem dari golok yang abis diasah. Sakit hati? Sempet. Tapi, dengan taufiq pertolongan-Nya telah saya maafkan, kemudian fokus belajar dan kerja keras lagi. Satu demi satu impian terwujud. Plus bonus-bonusnya. Bukan secara materi yaa.

Pesan untuk diri sendiri: Kalo liat orang lain berbuat kebaikan, terus ada muncul rasa underestimate, atau tidak nyaman di hati, entah oleh sebab hasad atau sekedar tidak suka aja, atau nggak suka banget, maka ucapkanlah istighfar dan, “Ma Shaa Allah tabarakaLLaah.” Jangan julit. Jangan mencegah orang berbuat baik.

Masa depan itu ghoib. Tidak ada yang tahu bagaimana nasib kita kemudian hari. Merasa kalah dalam lomba kebaikan itu bagus. Maka masuklah dalam golongan fastabiqul khairat, dan lakukan kebaikan-kebaikan yang lain. Dengan kita mendoakan orang lain yang berbuat baik, maka sama saja kita telah mengundang lebih banyak lagi kebaikan terjadi dalam hidup kita. Wallahu’alam.

Menulis, menasehati diri sendiri.

Kategori
COVID-19 RETJEHAN

Orang Yang Tidak Peduli Pandemi itu Egois.

Kenapa sih, aku belum berkenan terima tamu? Kenapa aku masih menolak undangan kopdar, kondangan, bahkan acara kumpul-kumpul skala kecil dua-tiga orang? Kenapa aku hanya berani makan di resto sepi di pagi hari sebelum jam makan siang? Kenapa aku masih kuat menahan diri tidak traveling, padahal godaan tiket pesawat dan hotel banting harga gokil? Kenapa aku masih memilih KBM daring dari pada tatap muka? Kenapa aku ridho belanja sayur online dari pada datengin pasar?

Karena….

I might not be overthinking. Tidak semua orang beruntung hanya jadi OTG ya. Tidak semua orang beruntung, hanya 10-14 hari isoman, auto negatip. Tidak semua orang beruntung, terbebas dari efek samping long-covid. Tidak semua orang beruntung, rezekinya mendapat layanan dan fasilitas sesuai kebutuhan pasien. Tidak semua orang beruntung, pulang dari Wisma Atlit kembali ke pelukan keluarganya dalam keadaan sehat sukacita. Tidak semua orang. Tidak pernah ada jaminan.

Karena…..

Aku sayang suamiku. Aku sayang anak-anakku. Aku nggak mau mereka sakit. Aku nggak mau kehilangan orang-orang yang kusayangi hanya karena keteledoran dan keegoisanku. Aku hanya mau melihat mereka panjang umur, bahagia, sehat wal’afiyat.

Karena………

Aku masih trauma berurusan dengan rumah sakit, tahun 2018-2019, bolak balik ditusuk jarum 18-22, selang infus, pisau operasi, obat-obatan kimia, kehilangan waktu produktif. Walaupun mendapat fasilitas VIP tapi suwer… Sakit itu ENGGAK ENAK. Sakit itu ngerepotin banyak orang. Tabiat orang sakit cenderung buruk, ngeselin, bikin orang lain musti banyak-banyak istighfar. Padahal manusia terbaik adalah orang yang paling bermanfaat, rahmatan lil’alamiin. Jadi, sebisa-bisanya, sekuat-kuatnya, aku berusaha menutup segala celah berurusan dengan rumkit.

Please Ya Rabb, mohon perlindungan-Mu.

Ujiannya adalah… Ketika orang rumah sendiri yang masa bodoh bahwa pandemi masih ada. Masa bodoh, yang penting gue hepi, kongkow ama temen, maen catur, hepi, hepi, hepi. Jadi pengen kunciin pintu pager aja deh. Silakan puas-puasin kongkow-kongkow, main catur sepuasnya, nggak usah pulang tapinya.

#$%&ยฅยฃยขโ‚ฌ$#%@*&ยฅ

Cerita ini bukan tentang suamiku. Bukan tentang anak-anakku. Jangan kepo. ๐Ÿ˜Š
Menulis melepaskan kekesalan.

Betapa kangennya aku duduk di majelis ilmu, berada di tengah-tengah orang-orang shalih-shalihaat. Betapa kangennya aku pada kelas-kelas tatap muka. Betapa kangennya aku pada sahabat-sahabatku. Orang ekstrovert itu mendapat semangat, energi baru, setelah bertemu dengan orang banyak. Orang tipe kinetik membutuhkan sentuhan, berpelukan dengan sahabat-sahabat. Kangen banget akutu ama klean Gaiss.