Kategori
ASAKU KESEHATAN RETJEHAN WAWASAN

Kacamata Kuda

Di kelurahan mana pun kita tinggal, di komunitas mana pun kita gabung, di platform medsos mana pun, akan selalu ada orang-orang yang mispersepsi dengan pekerjaan kita. Ciri-cirinya, mulai dari gaya berkomentar, “Ah ngapain sih, buat apa ngelakuin itu, ga usah neko-neko lah.” Sampai kenyinyiran, “Jelek amat, gak pantes,” Tapi nggak ngasih solusinya.

Copas prinsip beberapa temanku ya. “Tidak semua hal wajib dijelaskan. Orang yang mencintaimu tak butuh itu. Orang yang hasad padamu tidak akan mampu memahami apalagi percaya.”

Terus gimana dong menyikapi makhluk-makhluk julit ini? Contoh aja Gubernur Endonesah. Bang Anies Baswedan dibully berudu sejak hari pertama jadi Gubernur sampai detik ini, lempeng bae. Ngga pake baper, nggak ada cerita njeblosin anak berudu masuk bui. Tapi kita semua bisa lihat hasil kerjanya. Danau Sunter keren banget, bersih, cantik. Enggak bau lagi dong. Genangan air efek curah hujan, cuma hitungan jam surut. Fasilitas pejalan kaki dan pesepeda dibikin nyaman. Jakarta udeh kayak Singapore. – ini baru sedikit yang saya lihat dan saya nikmati ya.

Intinya. Selama sesuatu yang kita lakukan itu, bukan hal yang bikin Allah tidak ridho, apapun nyinyiran orang, fokus aja kerjakan sebaik-baiknya. Memang tidak mudah ya. Kadang kepancing emosi juga, “Lu kalo gak bisa support, jangan bikin down semangat orang dong! Ngasih makan enggak, ngasih solusi enggak, nyonyor aje bisanya.” 😀 Jangan ditiru ya Gais. 😀🙏

Menulis ini sambil ngebayangin masa muda penuh impian, cita-cita, ketemu orang-orang yang mispersepsi dan kata-katanya lebih tajem dari golok yang abis diasah. Sakit hati? Sempet. Tapi, dengan taufiq pertolongan-Nya telah saya maafkan, kemudian fokus belajar dan kerja keras lagi. Satu demi satu impian terwujud. Plus bonus-bonusnya. Bukan secara materi yaa.

Pesan untuk diri sendiri: Kalo liat orang lain berbuat kebaikan, terus ada muncul rasa underestimate, atau tidak nyaman di hati, entah oleh sebab hasad atau sekedar tidak suka aja, atau nggak suka banget, maka ucapkanlah istighfar dan, “Ma Shaa Allah tabarakaLLaah.” Jangan julit. Jangan mencegah orang berbuat baik.

Masa depan itu ghoib. Tidak ada yang tahu bagaimana nasib kita kemudian hari. Merasa kalah dalam lomba kebaikan itu bagus. Maka masuklah dalam golongan fastabiqul khairat, dan lakukan kebaikan-kebaikan yang lain. Dengan kita mendoakan orang lain yang berbuat baik, maka sama saja kita telah mengundang lebih banyak lagi kebaikan terjadi dalam hidup kita. Wallahu’alam.

Menulis, menasehati diri sendiri.

Kategori
ASAKU COVID-19 KESEHATAN

Makna Tawakal?

Ketika saya ditanya, “Bagaimana menyikapi bahaya kopitnaintiin lima bulan terakhir?”

Saya masih berusaha disiplin menjaga protocol kesehatan, untuk diri sendiri. Keluar rumah hanya untuk alasan mendesak. Tapi Piknik, jadi mendesak saat butuh olahraga di ruang terbuka, menghirup udara segar, dan mandi matahari pagi. Cari tempat dan waktu yang sepi. Pergi menginap hanya sama si temen bobok, atau sama keluarga yang tinggalnya serumah. Hindari keramaian.

Staycation.

img-20200719-wa00205318350510464368554.jpg

Kalo bosen masakan sendiri, pergi ke warung makan / cafe / resto yang punya meja kursi luar ruangan, berkunjungnya pada jam sepi pengunjung.

p_20200725_172641_p7884097980366609771.jpg

Tetap berusaha disiplin amalin protocol. Kalo gak mendesak banget ya di rumah aja. Keluar 🏠 pake masker, jaga jarak, rajin cuci tangan pake sabun.

Beberapa kali nerima tamu di rumah, di luar pager aja, ngobrol sambil berjemur ☀️

Sampai hari ini masih konsisten minum jus sayur, makan buah, ikan-ikanan, ayam, daging, telur, minyak ikan omega3, sesekali minum sari kunyit, teh hijau, teh putih tapi nggak tiap hari. Mendetoks tubuh dengan puasa dan meditasi. Olahraga low impact di kamar dengan bantuan aplikasi yoga / workout from home. Banyak doa, dzikir pagi petang, sholat, tilawah, sedekah, dan mohon perlindungan dari bala.

Just do the best and let God takes care the rest.

Kategori
ASAKU

Dikirimi Foto ini oleh Mama

Image may contain: 8 people, including Vicky Permana, people standing

 

 

Awalnya nggak ‘ngehh ini foto kapan. Pas pake kacamata 🤓😃 ahaaa. Jadi pen cerita ulang, sejarah foto ini.

Perhatiin deh, wajahku agak bengkak (moonface), sebelah mataku bintitan, ini adalah salah dua efek kemoterapi kelima. Sabtu kemo, Senin berangkat Haji. Pamitan, haru biru, pasrah menghadapi 40 hari berikutnya di Haromain.

Bawa bekal dua ampul Herceptin, yang ‘nyarisss ketinggalan. Sampai di Masjid Al Furqon jamaah keloter 59JKT – 2018 sudah ramai dan semua sibuk absen, registrasi koper, nyari bus masing-masing. Kami nyelonong aja naik bus. Cooler box ketinggalan di mobil adekku. Emakku yang inget, Fi obat, Fi obat. Alhamdulillah kebawa juga tuh Herceptin.

Herceptin obat apaan sih? Silakeun googling ya Mak. 😊

Melalui postingan ini kami cumaa mau ngingetin, nyemangatin.. kalo kita punya impian naik Haji, rencanakan sungguh-sungguh, dawamkan amalan yang terbaik dan fokus ya Mak. Korbankan dulu pengeluaran yang kurang mendesak. Fokus perbaiki kualitas dan kuantitas sholat, banyakin taubat, sedekah dan ‘nabung.

Pejeeng, gambar Ka’bah 🕋 gede-gede di kamar, di ruang sholat, di ruang makan, di ruang tamu. Jadiin wallpaper di henpon dan laptop. Memperkuat afirmasi. Makin sering diliat, makin sering disholawatin, makin sering didoain, in syaa Allah jalan makin terbuka.

Tapi kok adaa, muslim yang biasa-biasa ajaa, nggak mendawamkan amalan-amalan di atas, malah cenderung suka dzholim, tapi bisaa pergi haji juga? Yupp. Bisa jadi Allah memanggil kita ke Tanah Suci, sebagai kasih sayang-Nya, kita dikasih kesempatan bertaubat.

Kita semua adalah pendosa, pelaku ma’siyat. Dan bertaubat nggak mesti nunggu panggilan Haji. Siapa yang yakin pede besok masih ada umur?

 

NastaghfiruLLaah wa atuwbu ilaiH. 🤲

 

===

Kayaknya hatiku ketinggalan di Haromain, pingiiin banget balik lagi,  berempat sama anak-anak, umroh kek, haji kek, terus mampir juga ke negeri para Nabi….. Palestina, sholat di Masjidil Aqsha dalam keadaan terbaik…. aamiin aamiin Ya Rabb  🤲 🤲

Kategori
ASAKU RETJEHAN WAWASAN

Balada Pembeli

BALADA PEMBELI.

By: ‘Afiyah Salma Lathifa.

Sebagai pembeli, justru saya kurang sepakat dengan ungkapan, “Pembeli adalah Raja.” Karena pada kenyataannya kita saling membutuhkan, dan kita juga punya pilihan untuk melanjutkan transaksi atau tidak.

Saling menghormati, saling menghargai, saling memahami sajalah satu sama lain. Jangan jadi pembeli/penjual yang nyebelin, sok penting gituh. Maunya dianaa ajaa yang dipahami, diramahi, disopansantuni. Orang lain aja yang harus sabar. Diana boleh seenak udelnya.

Penjual yang terluka tersinggung sakit hati akibat sikap pembeli yang zalim, pasti akan bilang, “Rejeki dari Allah, bukan dari situ.”

Pembeli yang kecewa pun akan ngomong, “Cukuplah, ini muamalah yang terakhir. Banyak yang jual barangnya lebih bagus, lebih murah, fast response, ramah, kagak judes kagak baperan, bisa COD pulak.”

Ini urusan dunia lohh. Remeh temeh. Retjehan. Dampaknya bisa merusak masa depan akherat, jika sampai ngotorin hati, tidak bertegur sapa, menyemai benih sentimen pribadi, apalagi sampai putus silaturahim. Na’udzubillahi min dzalik.

Kita sama-sama belajar yaa, saling respek, saling memaafkan, saling maklum. Kita berlindung kepada Allah dari gangguan syaithan dan penyakit hati. Kita sungguh-sungguh meminta kepada Allah, qolbun salim.

Mohon maaf lahir bathin yaa 🙏

Menulis, melepaskan uneg-uneg dan memeluk harapan baik.

Kategori
ASAKU

Ulet Fi Sabilillah?

Cinta ‘kan membawamuuu, kemballi di sinniii 🎵 🎵 💞

By: ‘Afiyah Salma Lathifa

Saya pernah belajar Therapeutic Writing, menulis untuk menyembuhkan diri sendiri. Dari kelas ini saya memahami bahwa, kata-kata itu, tidak netral. Kata-kata, menggiring emosi, mencetus rasa, menguatkan keyakinan, dan menjadi doa.

Sejak saat itu saya berusaha memilih kata-kata untuk diri saya sendiri. Misalnya, “kesulitan” saya ganti dengan “tantangan” atau pertanyaan yang butuh jawaban.

“Dia bisa. Kok saya nggak bisa-bisa, sih?”

Saya ganti dengan, “Gimana cara dia belajar sampai bisa?”

Dengan mengganti pertanyaanya, saya bergerak mendekat ke arah tujuan. Yaitu, jadi bisa seperti dia.

Tulisan ini masih ada hubungannya dengan posting an sebelumnya, Mengamalkan Tajwid itu hukumnya fardhu ‘ain.

https://fifisofida.home.blog/2020/05/28/mengamalkan-tajwid-al-quran-hukumnya-fardhu-ain/

Tantangan, godaan, itu selalu, dan pasti, adaaa aja sepanjang perjalanan saya belajar Tajwid.

Saya baru merasa butuh belajar tajwid tahun 2014, di usia ke-42. Kenapa? Setelah saya melihat dan mendengar bacaan seseukhti yang baru beberapa tahun hijrah, sudah mengajar tajwid. Saya keteteran, bacaan saya dikoreksi terus. Dia ngasihtau, panjang pendeknya huruf itu penting, harus benar, supaya tidak mengubah arti. Dia tau saya nggak gampang didikte, maka dia bilang gini, “Kalo mau, kamu bisa belajar di alamat ini, guru-gurunya bersanad.”

Setelah placement test, saya masuk level satu. Satu halaqoh 8 murid, satu guru. Selain pakai buku latihan khusus, per tema. Quran yang digunakan juga standar internasional. Rosm Utsmani / Mushaf Madinah. Satu level lamanya 6 bulan, 24x pertemuan, sudah termasuk ujian. Satu pertemuan 2 jam.

Saya melihat, banyak mahmud, macan, jelita, lolita, semangat belajar tajwid. Datang 30 menit lebih awal, saya kenalan dengan “kakak kelas” saya banyak nyimak dulu.

Mereka bilang, “Belajar tajwid itu ga bole ja-im. Mulut harus berani buka, nyengir, monyong. Bawa cermin. Suara jahar, keras. Gapapa Salah, Yang Penting Kenceng. Ha-ha.”

Catet. 😊

Belajar tajwid juga, kalo mau bisaa, ga bole baperan, bolak-balik dikoreksi, ngambeeegg, besoknya banyak alesan, absen lagi, absen lagi. Gak naik level, ngambeeegg. Lahh?

Saya mahh tau dirii. Kalo emang belum pantas naik kelas, ngulang lagi ajaa nggakpapa, sampe mantep. Saya pengen bisa baca Qur’an yang Benar, bukan ngejar sertifikat. Saya menikmati proses KBM, saya mengulang latihan di rumah, saya ikutan ODOJ untuk mraktekin ilmu tajwid yang udah dipelajari. Saya nggak malu, nggak gengsi nanya, gimana sih caranya? Lidahnya lengket kemana? Mangapnya seberapa lebar? Gimana caranya, supaya huruf Nun dan Lam, ketika bersukun, nggak kepantul?

Saya dateng lebih awal, kenalan, deketin, banyak guru dan ibu-ibu kakak kelas, eskaesde, ngobrol, bawain makanan. Ujung-ujungnya minta dikoreksi bacaan.

Jarak tempuh dari rumah ke Sanggar sekitar 7-8 kilometer, rutenya macet asoy. Sekarang malah lebih jauh, Rawamangun-Condet 10 kilometer. Jadi saya harus target, paling telat keluar rumah jam berapa. Kalo sekiranya telaat, nyamperin opang, pilih mamang yang muda dan motornya bagus. Kehujanan, kepanasan, masuk angin, nggreges-greges, asal masih bisa jalan dan suara nggak hilang, saya tetep masuk.

Saya juga berdoa, minta sama Allah, melembutkan lidah, bibir, tenggorokan saya untuk membaca Kalam-Nya dengan tartil.

Godaan kemudian adalah, omset orderan dagangan saya, tumpah-tumpah. Jadwal pelatihan padat. Ma Syaa Allah tabarakaLLaah. Awalnya saya ge-er, ini berkah dari pengorbanan waktu saya untuk Al Quran. Lama-lama, malah jadi terlena, lalai, jarang ngerjain pe-er, mulai banyak absen. AstaghfiruLLaah wa atuwbu ilaih.

Godaan lebih besar lagi tahun 2016-2017 adalah tergiur tiket ✈️ murah, dan rezekinya juga pas lagi ada. Dua tahun saya sempfet cuti. Sibuk menikmati impian dunia, pelesiran ke mancanegara. Jordan, Palestine, Yunani, Turki, benua Asia, dalam negeri pun saya jelajahi pelosok Sumatera – Jawa, manjat gunung, wisata kuliner.

Saya lalai, dari Al Quran. Hubungan dengan orangtua, suami, anak-anak, teman-teman. Bermasalah. Usaha dagangan saya, pun. Bermasalah.

Sampai Maret 2018 dikasih bonus HER2+++ (kanker grade III) yang saya yakini banget ini adalah kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala , saya kembali gabung halaqoh Quran. Alhamdulillah alladzi bini’matihi tattimmush shalihaat. 🤲

Suami saya menambahi…

“Kamu harus lebih banyak bersyukur, dan lebih sering lagi bersyukur. Banyak banget pertolongan Allah waktu kamu sakit. Tau nggak, total biaya kemoterapi, radiasi, terapi target, dan evaluasi-evaluasinya? Hampir satu emmm. 99,99% dikaver kantor aku. Dan fisik kamu dikuatkan, mampu bekerjasama dengan rangkaian pengobatan panjang dan berat. La haula wa la quwata illa biLLah.”

Keluarga, sodara, teman-teman yang berkunjung, sering bawain cemilan sehat dan suplemen yang memang saya butuhkan selama pemulihan. Madu. Minyak zaitun Extra Virgin. Kacang Almond, walnut, pistachio. Air zamzam. Minyak ikan omega 369. Teh hijau, teh putih. Saya cek di toko online harga per botolnya antara 400-900ribu.

Sepanjang tahun pengobatan itu saya tidak pernah belanja ke pasar atau supermarket. Stok sayuran dan buahan di rumah berlimpah. Bingkisan tamu atau kiriman hamba-hamba Allah yang tidak mau diketahui identitasnya.

Allah datangkan teman-teman yang jauh-jauh, dari Yogya, Palembang, Kalimantan, datang menemui saya. Bahkan ada yang baru kenal via medsos, akhir pekan nongol di rumah, nemenin saya berjemur. ☀️ Saya tidak pernah kesepian. Hari-hari saya berkelimpahan cinta. Ma Syaa Allah. 💖

===

Ya…

Selama masa pengobatan, saya berusaha mempersiapkan segala kemungkinan. Sembuh, sehat, atau pulang. Baca Quran sehari 3-5 juz, di atas kasur. Dan lebih sering menangis, bertaubat.

Alhamdulillah, sampai tulisan ini published, saya masih diijinkan kembali sehat, petakilan, menuntut ilmu dan berbagi sejumput manfaat setiap hari. Qur-aanan ‘Ajaban. Al Quran sungguh menakjubkan.

Saya merasakan bedanya, antara: ketika futur, lalai atau memberikan waktu *sisa* mengamalkan tajwid Al Quran. Dengan.. Mengawali hari bela-belain Quran dulu sebelum beraktivitas. Bangun dua-tiga jam lebih awal sebelum Subuh.

Waktu seperti terasa lebih berkah. Sudah ngerjain ini itu banyak hal, liat jam, lohh baru jam 10 pagi, kirain sudah dzuhur. Lebih produktif, dan hati nggak gampang baper. Gak gampang cemas, takut, kuatir, parno. Lebih santuy, woles. Lebih mudah ridhaa, bersyukur oleh sebab remeh temeh retjehan. Ini alasan saya gabung kembali dalam halaqoh Quran. Hubungan dengan orangtua, suami, anak-anak, teman-teman, Allah perbaiki. Jadi lebih indah. Ma Syaa Allah tabarakaLLaah. 💖

Tantangan masa kini adalah Pandemi, belajarnya dari rumah, ngandelin kuota dan sinyal internet yang byar pet byar pet. La haula wala quwata illa biLLah, semoga Allah kuatkan semangat belajar kita. Semoga Allah teguhkan tekad kita, semoga Allah limpahkan pertolongan-Nya, semoga dikuatkan kesabaran kita, dan kesabaran guru-guru kita, dalam menjalani KBM Tajdwid Al Quran. 🤲

Berharap back for good. 🤲 Ya Muqallibal Quluub. Tsabbit Quluubana ‘ala Thoo’atik. Allohumma inna nas aluka husnul khotimah. Allohumma taqobbal minna. Nastaghfiruka wa atuwbu ilaiK. 🤲

 

No photo description available.

Kategori
ASAKU KEWANITAAN

Belajar dari kisah ujian orang lain.

Kemarin terima tilfun dari seseemak yang sedang butuh self healing dengan bercerita. Walaupun sulit bagi tipe saya yang talker, tapi saya berusaha mendengarkan dengan zero-mind. Menahan diri untuk tidak menasehati. Lebih fokus membuka pikiran untuk belajar menemukan hikmahnya bagi diri sendiri.

Kategori
ASAKU PARENTING

Kedua Putriku

Duluu banget saya mahh selalu kagum sama pelajar dan mahasiswa berprestasi, dapet beasiswa, bisa sekolah ke jenjang lebih tinggi. Dan saya nggak pernah kepikiran, “Terang aja dia anak orang mampu. “