Kategori
KESEHATAN WAWASAN

Suplemen Hati

Dua hari terakhir lagi butuh banget suplemen hati, Alhamdulillah ‘nemu rekaman ceramah Ustadz Oemar Mita Lc, ngaji kitab Tadzkiatun Nafs Bab Niat.

Beberapa linknya :

Simpulan untuk diri saya :

“Sakit, sehat, sedih, senang, semuanya adalah hak ALLaah” – ini mindsetnya orang beriman. Kita pernah mendengar cerita, ada orang yang komitmen disiplin menjalani gaya hidup sehat dan manajemen stress, tapi QadaruLLaah jatuh sakit juga. Sebaliknya, ada orang yang makan sembarangan, perokok berat, sampai usia 80 tahun baik-baik saja. Demikian juga dalam hal ketaatan, ada orang yang taat tetap diuji sakit, sedangkan para koruptor, para dukun, hidupnya sehat banget dan bahagia (kelihatannya) πŸ˜€

Baik sakit atau sehat, miskin atau kaya, sedih atau senang, jomblo atau berpasangan, punya keturunan atau enggak. Bagi orang beriman, ini semua adalah ujian tauhid. Ketika dikasih nikmat, dia bersyukur nggak. Ketika dikasih masalah, dia bersabar nggak. Jadi kufur atau makin taat.

Dia Yang menciptakan, pastinya hanya Dia Yang Maha Tahu kapasitas kemampuan dan kebutuhan makhluk ciptaan-Nya.
Sebagai orang beriman, kita tetap wajib beriktiar, wajib tahu ilmunya, dan ‘ngamalin semampunya. Gimana jalannya untuk punya pasangan yang diridhoi Allah, gimana caranya hidup tetap sehat, gimana caranya lebih sukses, lebih pintar, lebih kaya untuk bekal akherat. Enggak cukup hanya berdoa dan pasrah diam saja. Harus ada perjuangan dan pengorbanan.
Hasil akhirnya dikembalikan lagi kepada Yang Maha Kuasa, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Adil, Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Makan, olahraga, perawatan, niatnya cuma untuk sehat doang, atau agar keliatan in-shape, atau supaya pasangan makin cinta, atau senang dipuji orang, “Wow, masih cantik aja, masih ganteng aja, awet muda yaa, kayak anak kuliahan yaa.” dan sebagainya, maka ketika jatuh sakit, berubah jadi kurang cantik, kurang ganteng, ceking kerempeng atau menggendats, pasangan cuek egepe, ujung-ujungnya bapeerrr.

Ketika sholat tahajud, dhuha, baca Quran, bersedekah, ngumpulin anak yatim, niatnya hanya untuk kelancaran bisnis, demi omset semata, atau latah pengen kaya, atau demi gebetan, maka ketika bisnisnya bangkrut, atau jodohnya belum juga datang, pasti jadinya kecewa, marah, bingung dan sedih.

Ketika sakit, kalo berobat niatnya hanya untuk mendapatkan kesembuhan, maka ketika hasilnya tidak kunjung sembuh, atau penyakitnya malah makin parah, pasti jadinya kecewa, marah, sedih, lelah, putus asa. Na’udzubiLLaahi min dzalik.

Ketika belajar hanya untuk jadi juara, atau demi masuk PTN favorit, maka ketika gagal, pasti jadi merasa kecewa, kesal, ngedumel, atau menyalahkan keadaan. Demikian juga ketika bekerja keras niat hanya untuk cari uang, sesuap nasi, segenggam berlian. Kalau pun Allah berkenan “ngasih” apa yang diniatkan, ya udah sebatas itu aja yang didapat. Terus nanti di akhirat kita dapet apa dong?

Idealnya, niat nomer satu itu untuk Allah, agar mendapat ampunan-Nya, ridho-Nya, kasih sayang-Nya, rahmat-Nya, dan berharap masuk surga. Lapisan kedua dalam rangka mensyukuri nikmatnya. Lapisan ketiga untuk melakukan semakin banyak kebaikan, berbagi manfaat seluas-luasnya. Lapisan keempat dan seterusnya, barulah berdoa meminta rezeki yang berkah, panjang umur dalam sehat dan taqwa, keturunan shalih, hingga minta sendal baru atau mobil baru.

Jangan menipu Allah, karena Dia Maha Tahu hal yang ghaib, sekecil sehalus apapun isi hati kita. Niat itu amalan hati. Menjaga kebersihan niat itu dari awal, pertengahan, sampai akhir hayat. Tidak mudah. Butuh banyak istighfar dan taubat. Bahkan mengistighfarkan istighfar itu sendiri.

Semoga kita termasuk golongan orang yang diberi taufiq dan hidayah, dimampukan, untuk selalu berusaha membersihkan niat dalam setiap keadaan.

===

Menulis, mengikat ilmu.

Kategori
MELANCONG

Sepuluh Alasan Lebih Suka Belanja Online

Salah satu hikmah pandemi, aplikasi kurir ekspedisi, ojek online, dan market place bersaing ketat, kualitas layanan dan jorjoran diskon. Kaum rebahan menang banyak. Kirim paket nggak perlu jauh-jauh antri di kantor pos/tiki/jne. Paketnya dijemput kurir. Tinggal klik.

Kemarin kirim dokumen dan buku, alamat tujuan Jabodetabek, ongkir kurang dari dua puluh ribu, sehari sampai. Tempo hari jajan Sushi, mie ayam, roti tawar, bawang bombay. Daftar konsultasi ke dokter dan belanja obat pun online. Aplikasi yang kupakai, Gojek, Grab, Help, Lazada, Halodoc, dan Shopee.

“Kalo semua orang kayak kamu, pasar jadi sepi, dooong? Kok tega sih? Kasian kaan, pedagang di pasar.”

Jangan lebay, ah. Tidak mungkin semua orang pilihannya sama. Rezeki sudah dibandrol. Aku belanja online tidak mengurangi rezeki pedagang di pasar, tidak menambah kaya pemilik market place. Sudah sunnatullahnya, orang-orang yang memiliki ilmu lebih, dan mengamalkannya, akan lebih menghasilkan pundi-pundi. Suka atau tidak, pedagang / pengusaha muslim harus mau bersaing dalam kualitas layanan. Bikin aplikasi, atau kerjasama dengan pemilik aplikasi.

Alasan pertama. Salah satu hiburan saya adalah, makan. Jadi pilihannya cuma, masak, atau jajan. Untuk yang enak tapi ribet, prosesnya lama, njelimet, aku prefer jajan ajah.

Alasan kedua, di masa pandemi semua anggota keluarga harus lebih ketat lagi dalam BERHEMAT, harus pintar-pintar mengelola keuangan rumahtangga. Selisih dua ribu perak aja diaudit. Apalagi sampe dua puluh ribuan. Makin dekat warungnya, makin hemat ongkir. Kalo bisa berhemat lebih banyak, selisihnya bisa untuk berbagi. Dalam keterbatasan kadang kita harus memilih antara idealisme vs maslahat. Terserah mau dicap “nguntungin konglomerat” atau apalah. Bodo amat.

Alasan ketiga, nggak perlu antri di kasir atau masuk dalam kerumunan di pasar, mengurangi peluang terpapar penyakit berbahaya. Menyelamatkan nyawa orang-orang di rumah ini hukumnya fardhu ‘ain.

Alasan keempat, tetap bisa menjalin silaturahim dan berbagi hadiah, ke rumah orangtua, guru-guru, atau sahabat yang jauh-jauh. Tinggal klik. Cari warung atau toko terdekat dengan alamat tujuan.

Alasan kelima, kebebasan memilih penjual. Produk boleh sama. Tapi rezeki beda-beda. Saya pasti lebih suka jajan sama tetangga atau teman-teman yang saya kenal betul orangnya amanah, dan sifatnya menyenangkan. Sedangkan kalo belanja di toko online, saya bersedia meluangkan waktu untuk ngebacain dulu review atau ulasan pelanggan-pelanggannya.

Alasan keenam. Kebebasan memilih produk terbaik. Saya pernah belanja mukena buat hadiah, langsung ngeklik toko di Bukittinggi, Tasikmalaya, atau Denpasar. Daster bagus nemu di Pekalongan. Pernah juga nyari parfum Misk Thaharah merk Surati sampai ke Solo, karena di Jabodetabek belum ketemu.

Alasan ketujuh, isi mall sampai pasar loak, dalam genggaman. Mulai dari makanan, alat dapur, kamar mandi, elektronik, skincare atau krimbat Hair Spa ala-ala salon, hingga buku-buku jadul. Mau yang murmer, sejuta umat, atau merk-merk terkenal. Mau yang bonusnya segabruk, atau yang diskonnya sampe sembilan puluh persen. Tinggal scroll-up scroll-down.

Alasan ke delapan. Hemat waktu.

Alasan kesembilan. Bisa membantu calon pelanggan berikutnya dengan penilaian dan ulasan dari kita. Bagaimana kualitas produk. Lama waktu pengemasan. Kualitas packing. Kurirnya. Hingga respon penjualnya.

Alasan kesepuluh. Memperluas wawasan pengetahuan tentang sebuah produk dan manfaatnya, baik dari penjelasan di kotak detail produk maupun ulasan pelanggannya. Kalo saya masih kepo, pingin tahu lebih dalam lagi, saya googling.

Inilah sepuluh alasan kenapa saya memilih belanja online.

Kategori
RETJEHAN

Ngalis

Daily Make Up atau dandanan untuk aktivitas sehari-hari itu harus terlihat sederhana, dan sesuai kebutuhan aja sih. Nggak semua dipakai juga. Kalo alis dah tebal, cukup disisir/sikat alis, gak perlu digambar lagi. Kalo bibir dah merah pink dari sononya, mungkin gak perlu lipstik lagi.

Make up juga disesuaikan dengan karakter wajah dan orangnya. Kalo karakternya tegas bebas kek saya, cocok lipstik merah membara atau shocking pink. Kalo karakter orangnya lembut, kalem, cocok warna-warna dusty. Kita yg paling paham diri kita. Kita yang paling paham kebutuhan diri sendiri.

Namun demikian, ada pakem tak tertulis. Kalo bibir kita cukup tebal, hindari warna-warna keras, merah, ungu, shocking pink, dsb. Supaya nggak jadi makin memble keliatannya. Pilih warna coklat muda atau dusty pink. Sebaliknya, bibir tipis, cocok pakai warnaΒ² keras, kurang cocok pakai warna gelap karena akan keliatan makin ciyuut kayak nini-nini.

Bedak juga. Tidak semua orang nyaman berbedak. Tidak semua orang cocok warna bedak yang sama. Sesuaikan dengan keadaan muka masing-masing. Jangan maksain diri, kulit sawo matang pake dempul putih kuning langsat. Ya jadinya kayak iklan jam tangan Benetton (tangan orang Afrika di atas tangan orang Eropa). Kulit sawo matang lebih cocok dempul warna Beige, atau satu tone di atas warna kulit asli.

Bedak menjadi tidak wajib bagi mereka yang kulitnya sangat kering. Yang wajib bagi mereka adalah Pelembab / moisturiser / serum / day cream / night cream.

Perona pipi, atau Blush On. Ada yang cocok warna peach, baby pink, atau coklat glowing. Kalo alisnya sudah tebal, bulu mata tebal, bibir merah, maka Blush On menjadi tidak wajib. Supaya nggak terlalu ramai.

Alis.

Pemilihan kualitas dan warna pinsil alis dan jam terbang ngalis menentukan hasil akhir, untuk kulit orang Indonesia sebaiknya standar coklat. Jangan nekad pakai warna hitam. Latihan ngalis pas lagi santai. Bukan pas mau kondangan baru ngalis. Sebulan sebelum kondangan, tiap hari, nonton tutorial, praktekin. Ulangi, sampai dapet hasil yang natural. Make up yang bagus itu yang proporsional, sesuai acara, sesuai karakter wajah, sesuai kostum.

Make up itu Seni, enggak ada Salah/Benar. Yang ada, cocok atau kurang cocok. Itu pun subyektif. Tergantung selera orang yang liat.

Make up, bagi saya, adalah salah satu cara mencintai diri sendiri dan menghargai orang lain. Saya akui, di usia jelita sekarang ini, apalagi pernah botak habis-habisan efek kemoterapi radiasi, saya ngerasa kurang nyaman temu tatap muka atau zoom meeting dengan muka bantal, pucat, lecek, demek.

Walaupun udah mandi tiga kali sehari. Ada saat saya merasa harus touch up, minimal eyeliner.

Saya paham banget kok, banyak dari klean yang NGGAK BISA dan NGGAK PINGIN BISA, no problem. Saya hargai pilihan klean. πŸ‘πŸ‘

Saya juga tahu banyak dari klean yang NGGA SUKA, NGGAK BUTUH, karena emang udah PEDE BANGET tampil tanpa make-up, dan saya salut! πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Kita ini, nggak suka melakukan sesuatu hal, itu bisa dikarenakan lima sebab:

1. Nggak butuh atau belum butuh, belum kepepet.

2. Nggak bisa, belum tauu ilmunya.

3. Trauma. – punya pengalaman buruk.

4. Males. – apapun motivasinya, pokoknya Males.

5. Keyakinan.

Nggak suka make up juga begitu. Bisa jadi karena nggak butuh, atau pernah punya pengalaman buruk ketika baru coba-coba ngalis. Dibully. Terus kapok. Untuk mengobati kekecewaannya, tiap liat postingan orang tentang make up, nulis deh komentar, “Aku sih nggak suka make up, mending masak dari pada ngalis.” Deuu, siapa yang nanyaa? Lu pikir semua cewek yang make-up pasti kagak bisa masak apahh. Sembarangan! πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Saya juga tahu, ada di antara klean yang meyakini Make Up itu Haram, dan saya menghargai keyakinan klean. Dengan berkomentar, “Aku sih, ngga suka make up,” apakah klean merasa lebih mulia, lebih shalihat, lebih taqwa, dari pada kami yang masih ngalis?

Postingan-postingan saya tentang Make Up semuanya adalah hanya untuk teman-teman yang suka, yang butuh, yang kepingin bisa, saja. Saya juga NGGAK ada niatan maksa or nyuruh-nyuruh klean melakukan hal-hal yang klean ngga suka, kok. πŸ˜€

Saya juga nggak jago-jago amet, bukan Make Up Artist, tapi saya punya ilmunya, punya pengalaman untuk dibagi. Make up yang Nude itu kekgimana caranya, agar supaya cuma keliatan seger aja, nggak medhok kek mo resepsi nikah.

Saya lebih suka dandan, supaya keliatan kayak emak-emak. Soalnya kalo polosan aja kliatan kayak abege, sihh. Protes, blokir! πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Kategori
ASAKU KESEHATAN RETJEHAN WAWASAN

Kacamata Kuda

Di kelurahan mana pun kita tinggal, di komunitas mana pun kita gabung, di platform medsos mana pun, akan selalu ada orang-orang yang mispersepsi dengan pekerjaan kita. Ciri-cirinya, mulai dari gaya berkomentar, “Ah ngapain sih, buat apa ngelakuin itu, ga usah neko-neko lah.” Sampai kenyinyiran, “Jelek amat, gak pantes,” Tapi nggak ngasih solusinya.

Copas prinsip beberapa temanku ya. “Tidak semua hal wajib dijelaskan. Orang yang mencintaimu tak butuh itu. Orang yang hasad padamu tidak akan mampu memahami apalagi percaya.”

Terus gimana dong menyikapi makhluk-makhluk julit ini? Contoh aja Gubernur Endonesah. Bang Anies Baswedan dibully berudu sejak hari pertama jadi Gubernur sampai detik ini, lempeng bae. Ngga pake baper, nggak ada cerita njeblosin anak berudu masuk bui. Tapi kita semua bisa lihat hasil kerjanya. Danau Sunter keren banget, bersih, cantik. Enggak bau lagi dong. Genangan air efek curah hujan, cuma hitungan jam surut. Fasilitas pejalan kaki dan pesepeda dibikin nyaman. Jakarta udeh kayak Singapore. – ini baru sedikit yang saya lihat dan saya nikmati ya.

Intinya. Selama sesuatu yang kita lakukan itu, bukan hal yang bikin Allah tidak ridho, apapun nyinyiran orang, fokus aja kerjakan sebaik-baiknya. Memang tidak mudah ya. Kadang kepancing emosi juga, “Lu kalo gak bisa support, jangan bikin down semangat orang dong! Ngasih makan enggak, ngasih solusi enggak, nyonyor aje bisanya.” πŸ˜€ Jangan ditiru ya Gais. πŸ˜€πŸ™

Menulis ini sambil ngebayangin masa muda penuh impian, cita-cita, ketemu orang-orang yang mispersepsi dan kata-katanya lebih tajem dari golok yang abis diasah. Sakit hati? Sempet. Tapi, dengan taufiq pertolongan-Nya telah saya maafkan, kemudian fokus belajar dan kerja keras lagi. Satu demi satu impian terwujud. Plus bonus-bonusnya. Bukan secara materi yaa.

Pesan untuk diri sendiri: Kalo liat orang lain berbuat kebaikan, terus ada muncul rasa underestimate, atau tidak nyaman di hati, entah oleh sebab hasad atau sekedar tidak suka aja, atau nggak suka banget, maka ucapkanlah istighfar dan, “Ma Shaa Allah tabarakaLLaah.” Jangan julit. Jangan mencegah orang berbuat baik.

Masa depan itu ghoib. Tidak ada yang tahu bagaimana nasib kita kemudian hari. Merasa kalah dalam lomba kebaikan itu bagus. Maka masuklah dalam golongan fastabiqul khairat, dan lakukan kebaikan-kebaikan yang lain. Dengan kita mendoakan orang lain yang berbuat baik, maka sama saja kita telah mengundang lebih banyak lagi kebaikan terjadi dalam hidup kita. Wallahu’alam.

Menulis, menasehati diri sendiri.

Kategori
COVID-19 RETJEHAN

Orang Yang Tidak Peduli Pandemi itu Egois.

Kenapa sih, aku belum berkenan terima tamu? Kenapa aku masih menolak undangan kopdar, kondangan, bahkan acara kumpul-kumpul skala kecil dua-tiga orang? Kenapa aku hanya berani makan di resto sepi di pagi hari sebelum jam makan siang? Kenapa aku masih kuat menahan diri tidak traveling, padahal godaan tiket pesawat dan hotel banting harga gokil? Kenapa aku masih memilih KBM daring dari pada tatap muka? Kenapa aku ridho belanja sayur online dari pada datengin pasar?

Karena….

I might not be overthinking. Tidak semua orang beruntung hanya jadi OTG ya. Tidak semua orang beruntung, hanya 10-14 hari isoman, auto negatip. Tidak semua orang beruntung, terbebas dari efek samping long-covid. Tidak semua orang beruntung, rezekinya mendapat layanan dan fasilitas sesuai kebutuhan pasien. Tidak semua orang beruntung, pulang dari Wisma Atlit kembali ke pelukan keluarganya dalam keadaan sehat sukacita. Tidak semua orang. Tidak pernah ada jaminan.

Karena…..

Aku sayang suamiku. Aku sayang anak-anakku. Aku nggak mau mereka sakit. Aku nggak mau kehilangan orang-orang yang kusayangi hanya karena keteledoran dan keegoisanku. Aku hanya mau melihat mereka panjang umur, bahagia, sehat wal’afiyat.

Karena………

Aku masih trauma berurusan dengan rumah sakit, tahun 2018-2019, bolak balik ditusuk jarum 18-22, selang infus, pisau operasi, obat-obatan kimia, kehilangan waktu produktif. Walaupun mendapat fasilitas VIP tapi suwer… Sakit itu ENGGAK ENAK. Sakit itu ngerepotin banyak orang. Tabiat orang sakit cenderung buruk, ngeselin, bikin orang lain musti banyak-banyak istighfar. Padahal manusia terbaik adalah orang yang paling bermanfaat, rahmatan lil’alamiin. Jadi, sebisa-bisanya, sekuat-kuatnya, aku berusaha menutup segala celah berurusan dengan rumkit.

Please Ya Rabb, mohon perlindungan-Mu.

Ujiannya adalah… Ketika orang rumah sendiri yang masa bodoh bahwa pandemi masih ada. Masa bodoh, yang penting gue hepi, kongkow ama temen, maen catur, hepi, hepi, hepi. Jadi pengen kunciin pintu pager aja deh. Silakan puas-puasin kongkow-kongkow, main catur sepuasnya, nggak usah pulang tapinya.

#$%&Β₯£’€$#%@*&Β₯

Cerita ini bukan tentang suamiku. Bukan tentang anak-anakku. Jangan kepo. 😊
Menulis melepaskan kekesalan.

Betapa kangennya aku duduk di majelis ilmu, berada di tengah-tengah orang-orang shalih-shalihaat. Betapa kangennya aku pada kelas-kelas tatap muka. Betapa kangennya aku pada sahabat-sahabatku. Orang ekstrovert itu mendapat semangat, energi baru, setelah bertemu dengan orang banyak. Orang tipe kinetik membutuhkan sentuhan, berpelukan dengan sahabat-sahabat. Kangen banget akutu ama klean Gaiss.

Kategori
KESEHATAN MELANCONG WAWASAN

Sekilas Meditasi

Catatan pribadi, dari kelas Meditasi kemarin. Boleh jadi berbeda dengan pemahaman orang lain.

Meditasi itu bukan bertapa. Bukan juga mengosongkan pikiran.
Meditasi hanyalah mekanisme untuk menenangkan diri. Paradigmanya memberdayakan.

Macam-macam Meditasi:

1. Mindfulness meditation οƒ  pay attention, be present, right now, no-judging. Bisa dilakukan ketika mandi, rasakan air yang mengguyur kulit, alirannya, suhunya, dengarkan suaranya. Bisa dilakukan juga ketika makan, minum, menggosok gigi, ngobrol dengan orang lain fokus tanpa keinginan menilai atau menginterupsi.

2. Vipassana meditation. οƒ  bagaimana menjadi observer, mengamati emosi yang hadir, tanpa reaksi. Hanya mengenali dan mengamati saja emosi yang datang. Jangan bereaksi. Nanti dia (si emosi) akan berlalu, pergi. Emosi mempengaruhi pikiran. Pikiran mempengaruhi energi. Kemarahan membuat cepat lelah. Kebahagiaan, jatuh cinta, membuat manusia lebih kuat, lebih kreatif.

3. Sound meditation. οƒ  mendengarkan sesuatu bunyi-bunyian secara detail, gemericik air mengalir di sungai misalnya, dengarkan apa adanya, tanpa judging, tanpa menganalisa, ini juga merupakan Meditasi.

Ketika mengalami kecemasan, kita bisa mengatasinya dengan cara melakukan Grounding.
Grounding ada empat cara:
1. Menggunakan indera penciuman οƒ  temukan dua macam bau di sekitar anda, fokus pada bau-bauan itu. Aromaterapi misalnya. Tidak harus wangi lavender.
2. Menggunakan indera pendengaran οƒ  temukan dua bunyi di sekitar anda, fokus pada bunyi-bunyian itu. Detik jarum jam, misalnya. Atau hembusan suara pendingin ruangan.
3. Menggunakan indera penglihatan. οƒ  temukan dua benda di sekitar anda, fokus pada detil benda itu. Henfon misalnya, bagaimana lekukannya, tutsnya, warnanya, casingnya.
4. Kinestetik, bergerak. οƒ  ubah posisi duduk, ubah posisi berdiri, stretching, berjalan, atau olahraga.

Relevansinya dalam ibadah orang islam, bagaimana?

Mindfulness atau grounding bisa lewat latihan sholat khusyu, pahami bacaan, hayati, mulai takbir, alfatihah, rukuk, sujud, tahiyat, dan setiap perpindahan gerakan dilakukan dengan tuma’ninah yang sempurna. Wallahu’alam bish showab.

Langsung praktek.

img-20200719-wa00062865137651762361256.jpg

Kategori
ASAKU COVID-19 KESEHATAN

Makna Tawakal?

Ketika saya ditanya, “Bagaimana menyikapi bahaya kopitnaintiin lima bulan terakhir?”

Saya masih berusaha disiplin menjaga protocol kesehatan, untuk diri sendiri. Keluar rumah hanya untuk alasan mendesak. Tapi Piknik, jadi mendesak saat butuh olahraga di ruang terbuka, menghirup udara segar, dan mandi matahari pagi. Cari tempat dan waktu yang sepi. Pergi menginap hanya sama si temen bobok, atau sama keluarga yang tinggalnya serumah. Hindari keramaian.

Staycation.

img-20200719-wa00205318350510464368554.jpg

Kalo bosen masakan sendiri, pergi ke warung makan / cafe / resto yang punya meja kursi luar ruangan, berkunjungnya pada jam sepi pengunjung.

p_20200725_172641_p7884097980366609771.jpg

Tetap berusaha disiplin amalin protocol. Kalo gak mendesak banget ya di rumah aja. Keluar 🏠 pake masker, jaga jarak, rajin cuci tangan pake sabun.

Beberapa kali nerima tamu di rumah, di luar pager aja, ngobrol sambil berjemur β˜€οΈ

Sampai hari ini masih konsisten minum jus sayur, makan buah, ikan-ikanan, ayam, daging, telur, minyak ikan omega3, sesekali minum sari kunyit, teh hijau, teh putih tapi nggak tiap hari. Mendetoks tubuh dengan puasa dan meditasi. Olahraga low impact di kamar dengan bantuan aplikasi yoga / workout from home. Banyak doa, dzikir pagi petang, sholat, tilawah, sedekah, dan mohon perlindungan dari bala.

Just do the best and let God takes care the rest.