Kategori
ASAKU

Ulet Fi Sabilillah

Cinta kan membawamuuu, kemballi di sinniii 🎵

By: ‘Afiyah Salma Lathifa (Fifi Sofida)

Saya pernah belajar Therapeutic Writing, menulis untuk menyembuhkan diri sendiri. Dari kelas ini saya memahami bahwa, kata-kata itu, tidak netral. Kata-kata, menggiring emosi, mencetus rasa, menguatkan keyakinan, dan menjadi doa.

Sejak saat itu saya berusaha memilih kata-kata untuk diri saya sendiri. Misalnya, “kesulitan” saya ganti dengan “tantangan” atau pertanyaan yang butuh jawaban.

“Dia bisa. Kok saya nggak bisa-bisa, sih?”

Saya ganti dengan, “Gimana cara dia belajar sampai bisa?”

Dengan mengganti pertanyaanya, saya bergerak mendekat ke arah tujuan. Yaitu, jadi bisa seperti dia.

Tulisan ini masih ada hubungannya dengan posting an sebelumnya, Mengamalkan Tajwid itu hukumnya fardhu ‘ain.

Tantangan, godaan, itu selalu, dan pasti, adaaa aja sepanjang perjalanan saya belajar Tajwid.

Saya baru merasa butuh belajar tajwid tahun 2014, di usia ke-42. Kenapa? Setelah saya melihat dan mendengar bacaan seseukhti yang baru beberapa tahun hijrah, sudah mengajar tajwid. Saya keteteran, bacaan saya dikoreksi terus. Dia ngasihtau, panjang pendeknya huruf itu penting, harus benar, supaya tidak mengubah arti. Dia tau saya nggak gampang didikte, maka dia bilang gini, “Kalo mau, kamu bisa belajar di alamat ini, guru-gurunya bersanad.”

Setelah placement test, saya masuk level satu. Satu halaqoh 8 murid, satu guru. Selain pakai buku latihan khusus, per tema. Quran yang digunakan juga standar internasional. Rosm Utsmani / Mushaf Madinah. Satu level lamanya 6 bulan, 24x pertemuan, sudah termasuk ujian. Satu pertemuan 2 jam.

Saya melihat, banyak mahmud, macan, jelita, lolita, semangat belajar tajwid. Datang 30 menit lebih awal, saya kenalan dengan “kakak kelas” saya banyak nyimak dulu.

Mereka bilang, “Belajar tajwid itu ga bole ja-im. Mulut harus berani buka, nyengir, monyong. Bawa cermin. Suara jahar, keras. Gapapa Salah, Yang Penting Kenceng. Ha-ha.”

Catet. 😊

Belajar tajwid juga, kalo mau bisaa, ga bole baperan, bolak-balik dikoreksi, ngambeeegg, besoknya banyak alesan, absen lagi, absen lagi. Gak naik level, ngambeeegg. Lahh?

Saya mahh tau dirii. Kalo emang belum pantas naik kelas, ngulang lagi ajaa nggakpapa, sampe mantep. Saya pengen bisa baca Qur’an yang Benar, bukan ngejar sertifikat. Saya menikmati proses KBM, saya mengulang latihan di rumah, saya ikutan ODOJ untuk mraktekin ilmu tajwid yang udah dipelajari. Saya nggak malu, nggak gengsi nanya, gimana sih caranya? Lidahnya lengket kemana? Mangapnya seberapa lebar? Gimana caranya, supaya huruf Nun dan Lam, ketika bersukun, nggak kepantul?

Saya dateng lebih awal, kenalan, deketin, banyak guru dan ibu-ibu kakak kelas, eskaesde, ngobrol, bawain makanan. Ujung-ujungnya minta dikoreksi bacaan.

Jarak tempuh dari rumah ke Sanggar sekitar 7-8 kilometer, rutenya macet asoy. Sekarang malah lebih jauh, Rawamangun-Condet 10 kilometer. Jadi saya harus target, paling telat keluar rumah jam berapa. Kalo sekiranya telaat, nyamperin opang, pilih mamang yang muda dan motornya bagus. Kehujanan, kepanasan, masuk angin, nggreges-greges, asal masih bisa jalan dan suara nggak hilang, saya tetep masuk.

Saya juga berdoa, minta sama Allah, melembutkan lidah, bibir, tenggorokan saya untuk membaca Kalam-Nya dengan tartil.

Godaan kemudian adalah, omset orderan dagangan saya, tumpah-tumpah. Jadwal pelatihan padat. Ma Syaa Allah tabarakaLLaah. Awalnya saya ge-er, ini berkah dari pengorbanan waktu saya untuk Al Quran. Lama-lama, malah jadi terlena, lalai, jarang ngerjain pe-er, mulai banyak absen. AstaghfiruLLaah wa atuwbu ilaih.

Godaan lebih besar lagi tahun 2016-2017 adalah tergiur tiket ✈️ murah, dan rezekinya juga pas lagi ada. Dua tahun saya sempfet cuti. Sibuk menikmati impian dunia, pelesiran ke mancanegara. Sampai Maret 2018 dikasih bonus HER2+++ yang saya yakini banget ini adalah kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala , saya kembali gabung halaqoh Quran. Alhamdulillah alladzi bini’matihi tattimmush shalihaat. 🤲

Seseguru berkata, bahwa belajar Al Quran adalah belajar tiada akhir. Mohon doanya, yaaa manteman, semoga saya dilimpahkan taufiq, istiqomah kenikmatan untuk terus berada di dalam halaqoh Quran. 🤲

Kategori
WAWASAN

Mengamalkan Tajwid Al Quran hukumnya fardhu ‘ain.

Bismillah

 

===

Mengamalkan Tajwid Al Quran hukumnya fardhu’ain.

By : ‘Afiyah Salma Lathifah (Fifi Sofida).

 

Cuma mau ‘ngingetin manteman yang sedang di puncak semangat hijrah. Nyimak kajian tematik setiap hari, itu bagus, dan penting. Namun jangan lupa, beri prioritas perhatian juga pada bacaan Quran kita.

Ni… saya kasihtau yaa.

Belajar teori tajwid hukumnya fardhu kifayah. Sedangkan mengamalkannya, yakni membaca Al Quran dengan tartil, sesuai kaidah tajwid, hukumnya FARDHU ‘AIN. 😊

Dalilnya?

Pertama:
Al Quran Surat Muzzammil ayat 4. Kita diperintahkan membaca Al Quran bukan hanya secara perlahan-lahan, tapi juga mempehatikan hukum-hukum bacaannya.

Kedua:
Rasulullah saw bersabda:

زين القرآن بأصواتكم

“Hiasilah Al Quran dengan suara kalian.” – Hadits Riwayat Abu Dawud & An Nasa’i

Ketiga:
Para Ulama Salaf dan Kholaf SEPAKAT tentang wajibnya mengamalkan Tajwid Al Quran.

Imam Ibnu Al Jazari berkata:
والأخذ بالتجويد حتم لازم
من لم يصحح القران آثم
لأنه به الإله أنزلا
وهكذا منه إلينا وصلا

“Membaca Al Quran dengan tajwid itu hukumnya wajib. Siapa yang tidak membetulkan bacaan Al Qurannya, berdosa. Karena Allah menurunkannya dengan tajwid. Dan demikianlah Al Quran dari-Nya sampai kepada kita.”

Kesalahan-kesalahan yang fatal yang sering terjadi adalah:

1️⃣ Tidak sesuai makhraj / tempat keluar huruf.
2️⃣ Panjang pendeknya huruf yang dibaca.

Contoh:

1. Nun masih suka ketuker dengan Ba’
2. Jim masih suka ketuker dengan Kho’
3. Hamzah masih berbunyi ‘Ain atau sebaliknya.
4. Tidak ada huruf mad, dibaca panjang. Atau sebaliknya, ada huruf Mad tapi diabaikan, nyelonong bae.

Kenapa ini disebut kesalahan fatal? Karena bisa mengubah artinya. Makanya di atas tersebut, Imam Ibnu Al Jazari berfatwa, siapa yang tidak mau membetulkan bacaannya, berdosa.

Apa saja Keutamaan / Manfaat / Reward / Penghargaannya, ketika membaca Al Quran dengan mempraktekkan tajwidnya?

Setidaknya ada 5 benefitnya.

1️⃣ Mendapat syafaat pada hari Kiamat.
2️⃣ Merupakan amalan terbaik.
3️⃣ Mendapat derajat yang tinggi, bersama malaikat mulia kiromil baroroh.
4️⃣ Mendapat Sakinah (ketenangan, ketentraman, kedamaian, kecukupan) dan Rahmat.
5️⃣ Mendapatkan anugerah terbaik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pernah ga, kita merasa sudah rajin baca Quran tapi masih sering galau, sering sedih, sering erosi-inyong.
Pirtinyiinnyi: Yakin bacanya sudah dengan tajwidnya juga? 😊

Tidak cukup hanya dengan bergabung komunitas hijrah, yang ustadz-ustadznya beken kajiannya bagus-bagus, seragamnya keren. Tapi…

Tapi belum peduli, tajwid Al Quran. Kalo bacaan alfatihah saja masih salah makhraj dan panjang pendeknya masih nyelonong-nyelonong, shalatnya beresiko jadi tidak sah. Silakan tabayyun guru ngajinya. Bener ga, apa yang saya tulis.

Saya pernah belajar di Lembaga Tahsin bersanad. Sanggar Quran Mardani Lima, lulus pra-tahfidz. Setahun lebih menjalani pengobatan medis kanker, rindu duduk di halaqoh, maka mendaftarlah di Utsmani, lokasi Condet. Saat ini masuk level 5. Ma Syaa Allah tabarakallah.

Sama sekali tidak bermaksud menyombongkan diri. Tapi ngasih bukti. Saya nggak cuma nyuruh-nyuruh aja bisanya. Tapi saya lakukan dulu. Saya contohin dulu. Lead by example. Lead by inspiration.

Kajian tematik jumlahnya ribuan bertebaran di youtube dan Instagram. Kalo ketinggalan, mudah diakses kapan pun. Sedangkan belajar tajwid, walaupun banyak juga videonya, tetep kita harus Talaqqi. Face to face. Tatap muka dengan guru. Dikoreksi. Realtime.

Harapan saya…. Yuk sediakan prioritas, waktu, tenaga, pikiran, semangat, kesabaran, ketekunan, dan sebagian harta kita, untuk terus belajar memperbaiki bacaan Al Quran kita. Wallahu’alam bish showab. Wallahu muwafiq. 🤲

Kategori
INSPIRASI DAPUR

🐔 Tikka Masala?

Eksperimen Ketiga.
Terinspirasi oleh video tutorial di Instagram, saya modifikasi dengan bahan yang tersedia di rumah dan disesuaikan selera lidah sendiri.

Pertama kali bikin:

Chicken Tikka Masala.
Ayam Ungkep India.

Bumbunya bawang putih, jahe, bubuk cabe, garam masala, jeniper dan yogurt plain. – ini buat marinasi ayamnya.

Kategori
ASAKU KEWANITAAN

Belajar dari kisah ujian orang lain.

Kemarin terima tilfun dari seseemak yang sedang butuh self healing dengan bercerita. Walaupun sulit bagi tipe saya yang talker, tapi saya berusaha mendengarkan dengan zero-mind. Menahan diri untuk tidak menasehati. Lebih fokus membuka pikiran untuk belajar menemukan hikmahnya bagi diri sendiri.

Kategori
PARENTING

Respon Anak-Anakku

Ini masih kelanjutan ulasan saya, “Orangtua adalah Takdir Anak.

Anak-anakku penasaran dan mendesak, kenapa ibuknya mendadak masuk kamar, minta maaf dan nangis. Saya ceritain, shocked abis baca tulisan anak muda, muslimah, berhijab, travel vlogger, bloger, influencer, followernya banyak, cantik, pintar, mengaku menemukan cahaya Islam di Eropa, kuliah di Jerman….. (belum selesai saya ngomong), si ragil langsung komentar,

Kategori
PARENTING

Orangtua Adalah Takdir Anak

Barusan melipir baca blog seorang vlogger, influencer muda, muslimah berhijab, sekolah di Eropa dan mengaku menemukan cahaya Islam di benua empat musim ini. Saya tertarik nonton ulasan-ulasannya dan belajar melihat sampai di halaman berapa dia memahami opini-opini pribadinya yang berkenaan dengan agamanya.

Kategori
PARENTING

sekilas tentang pola asuh

Kemarin dapet DM dari jeng Yumi Yulanda, mahmud yang saya kenal di sebuah lembaga tahsin, bertanya, “Gimana sih kiat-kiat, pola didik, motivasi ibu dan suami, mendidik kedua putri?”

Kalo mau diceritain semua akan sangat panjang banget yaa, secara anak saya yang ragil saja umurnya sudah dua puluh tahun. Tapi saya coba ringkas dalam poin-poin intinya saja.